IESQ Concept for Sucess
IESQ Concept for
Success
Lucy Dewan Yuliyanto
NIM 1100744
Department of Mathematics Education, UPI
|
K
|
onsep
Intelligence Quotient pertama kali dikelompokkan oleh Albert Binet. Lalu Binet
mengembangkan tes IQ untuk mengukur kecerdasan. Kecerdasan
intelektual merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada
dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing
individu tersebut. IQ berhubungan dengan kemampuan menghafal, bernalar dengan
logika kita.
Kecerdasan Intelektual masih
dianggap sebagai tolak ukur kecerdasan anak-anak, banyak orang tua yang mengharapkan anak-anaknya pintar khususnya
dalam bidang eksak. Diantara mereka mengharapkan anaknya memiliki IQ yang
tinggi seperti Einstein atau Habibie.
Namun, pada kenyataannya tidak semua
orang yang ber-IQ tinggi umumnya sukses secara studi, tetapi kurang sukses
dalam karir pekerjaan. Mau bukti? Coba
kamu bayangkan pemandangan alam dalam waktu 3 detik. Apa yang kamu gambar? Nah,
dua gunung, ada matahari dan sungai kan. Kita dapat menyimpulkan bahwa IQ bukan
syarat penting untuk menjadi sukses karir, tetapi IQ merupakan syarat minimal
untuk mendapatkan pekerjaan. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan
seseorang seperti kemampuan memimpin, cara berkomunikasi dll. Do you wanna know?
It’s
Emotional Quotient. Kecerdasan Emosi dikenalkan oleh Daniel Goleman. Berdasarkan
hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) ber-kesimpulan
bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan
pikiran emosional. Kecerdasan emosi inilah yang
sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju tangga kesuksesan tertinggi. Banyak
pengusaha yang IQ-nya rendah tetapi ia bisa sukses dalam usahanya. Di sinilah
kelompok manusia EQ terbukti eksistensinya. Jadi, Emotional Quotient adalah serangkaian kemampuan mengontrol dan
menggunakan emosi, serta mengendalikan diri, semangat, motivasi, empati,
kecakapan sosial, kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Seseorang bahkan bisa dikatakan
sukses sebenarnya bila dia memiliki IQ dan EQ yang tinggi. Namun, banyak orang
sukses secara IQ dan EQ memiliki perasaan galau
bahkan ia merasa kurang, padahal dirinya berada di puncak kesuksesan. Hidupnya
tak bertujuan, diperbudak uang dan waktu bahkan kosong batinnya. In here, Spiritual Quotient comes to
complete IQ and EQ. Danah Zohar dan Ian Marshall dalam buku mereka, SQ:Spiritual Quotient mendefinisikan
kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan
perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya,
kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Ternyata cukup memiliki IQ dan EQ
yang tinggi. Kita perlu Spiritual
Quotient sebagai inspirasi dan motivasi untuk menemukan sumber kebahagiaan.
Kecerdasan spiritual bukan hanya diperlukan untuk mengenali nilai dalam diri
tapi untuk memaknai setiap aktivitas yang kita lakukan hingga Self Actualization. Jadi, orang sukses
sejati ialah orang yang menggabungkan IQ, EQ, dan SQ yakni sukses secara
intelektual, emosional dan spiritualnya.
Bibliography
Agustian,
Ary Ginanjar dan Ridwan Mukri. (2008). ESQ for Teens 1 (Cetakan Ketujuh).
Bandung : ARGA Publishing.
Misbach,
Ifa Hanifah. (2008). Antara IQ, EQ, dan SQ. Pelatihan
Nasional Guru Se-Indonesia (hal. 1-12). Bandung : Jurusan Psikologi UPI.
Nasution,
Ahmad Taufik. (2009). Melejitkan SQ dengan Prinsip 99 Asmaul Husna. Jakarta :
Gramedia
Komentar
Posting Komentar